Monday, April 2, 2018

5 Destinasi Goa Gajah Ubud di Bali yang Aman dari Dampak Letusan Gunung Agung

Gunung Agung di Bali tengah mengeluarkan awan panas. Meski begitu, wisatawan masih bisa menyambangi beberapa destinasi wisata yang terbilang aman. 

Wisatawan yang berada di Bali dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya, serta seluruh area dalam radius 8-10 kilometer dari kawah Gunung Agung. 

Mulai dari Denpasar hingga Bali bagian selatan, berikut beberapa destinasi wisata di Pulau Dewata yang aman untuk dikunjungi wisatawan.

Ubud Ubud masih tergolong aman untuk berwisata. Anda bisa mampir ke Tegalalang untuk melihat hamparan terasering, melihat karya seni di Museum Antonio Blanco, juga trekking di Campuhan Ridge Walk. 

Pura Taman Saraswawati Ubud dengan hamparan bunga teratai berwarna merah muda spot foto yang instagramable. Monkey Forest juga tak boleh ketinggalan dikunjungi. Di sini, Anda bisa bertemu dan berinteraksi dengan puluhan monyet yang berkeliaran. 

Yang gemar berwisata olahraga, Anda bisa mencoba rafting di sepanjang Sungai Ayung. Anda juga bisa mengunjungi Pura Tirta Empul Tampaksiring dan Goa Gajah Ubud.

Nusa Penida 
Pulau Nusa Penida dikenal dengan panorama alam bawah lautnya, dengan terumbu karang yang masih alami dan beragam jenis ikan. 

Di pulau ini Anda bisa menyambangi Pantai Penida, Pantai Atuh, Pura Batumedawu, Pura Goa Giri Putri, Pura Dalem Ped, Puncak Mundi, dan beberapa sumber mata air di selatan Nusa Penida yang menawarkan pemandangan tebing sisi laut setinggi 200 meter.

Denpasar 
Denpasar yang dikenal sebagai ibu kota Provinsi Bali rupanya tak kalah ramai. Di Denpasar, Anda bisa mampir ke Monumen Perjuangan Rakyat Bali yakni di kawasan Lapangan Puputan Renon atau lebih dikenal dengan Lapangan Renon Denpasar. Di Monumen Bajra Sandhi, wisatawan akan mendapatkan gambaran miniatur Bali dari beberapa zaman. 

Pantai Sanur terletak di timur Kota Denpasar. Ada juga Pantai Padang Galak, Pantai Sindhu, Pantai Mertasari dan beberapa pantai lain. Di tempat ini juga dilengkapi dengan pasar seni yang menjual aneka kaus, baju dan pernak-pernik khas Bali. Harganya juga tidak jauh beda dengan yang dijual di pasar oleh-oleh.

Pulau Menjangan Pulau Menjangan di bagian barat Bali menyuguhkan pemandangan bawah laut yang menawan. Terletak 10 km di lepas pantai barat laut Bali, pulau kecil Menjangan merupakan bagian dari Taman Nasional Bali Barat. 

Di sini kita bisa menemui banyak satwa langka. Anda juga bisa melakukan aktivitas bird watching. Karena keindahan alam Taman Nasional Bali Barat inilah Bali dikenal dengan sebutan 'Pulau Dewata', 'Pulau Seribu Pura', atau 'Pulau Surga'. 

Pulau Menjangan juga memiliki wall untuk diving yang disebut-sebut terbaik di Bali.

Pantai Lovina Berlokasi di bagian utara Pulau Bali, Pantai Lovina menyajikan keindahan sunrise yang cantik ditemani lumba-lumba di laut lepas. Anda bisa menyaksikannya sekitar pukul 06.00 hingga 08.00 WIB. Anda juga bisa snorkeling di pantai ini.

Waroeng Belik, Tawarkan Suasana Tradisional Tugu Jogja Malam Hari dengan Masakan Rumahan

Bagi para perantau yang bekerja di Yogyakarta atau bagi para wisatawan yang ingin menikmati menu masakan rumahan, sayur lodeh, tempe goreng, sambal, ikan goreng dan berbagai macam menu lainnya, Anda bisa mampir ke salah satu tempat ini.

Waroeng Belik, merupakan tempat makan Tugu Jogja malam hari berkonsep Jawa tradisional dengan menghadirkan menu masakan rumahan. Bertempat di Tambakan Ngaglik, Kab Sleman, warung yang belum genap 3 bulan beroperasi ini sudah ramai didatangi banyak pengunjung. Hal ini dapat dilihat dari beberapa motor bahkan mobil berplat nomor luar DIY terparkir rapih di area parkir Waroeng Belik ini.

“Pemiliknya sengaja mengusung konsep tradisional. Hal ini bisa dilihat dari perabotan dan hiasan yang ada di warung ini semuanya seperti kita berada di desa,” ujar Endah Pramesti, Bagian Keuangan Waroeng Belik, kepada kami di Waroeng Belik Tambakan, Ngaglik, Sleman, Rabu (21/3).
Selain konsep tradisional yang diusung, pengunjung juga dapat menikmati pemandangan hijau yang tersuguh di depan mata. Sejauh mata memandang terlihat persawahan hijau yang tentunya dapat memanjakan mata Anda. Selain pemandangan hijau, tempat ini juga dilengkapi dengan kolam ikan lengkap dengan perahu dan beberapa spot foto bagi Anda yang senang selfie.
Warung yang milik FX Fanky Sugiharto ini menyuguhkan tempat yang cukup luas dengan adanya 3 bagian utama warung, lalu ada 1 bagian terletak di bagian belakang dan biasanya digunakan bagi orang-orang yang mengadakan meeting penting karena tempat tersebut lebih tertutup. Selain itu terdapat meja-meja berpayung dan meja yang menggunakan bathup sebagai bahan utama.
“Kami juga menyediakan mushola yang cukup luas dan rencananya kami akan buat penginapan di belakang sehingga jika ada tamu yang membutuhkan penginapan karena ingin merasakan nuansa lain bisa datang ke sini,” ujarnya.
Meskipun baru berjalan sekitar 3 bulan, namun tempat ini sudah menjadi langganan bagi orang-orang yang mengadakan acara tertentu, misalnya arisan atau hanya sekadar kumpul bersama dengan keluarga. Selain itu beberapa komunitas mobil juga sempat menyambangi tempat ini untuk menikmati makanan dan suasana yang disajikan.
“Tempat ini enak banget dari segi pemandangan dan makanannya lebih terjamin daripada tempat lain yang konsepnya senada dengan ini. Yang jelas tempat ini recommended bagi orang yang suka dengan konsep desa dan alam,” ujar Passa, salah satu pengunjung Waroeng Belik.
Menuru Passa, tempat ini terkesan lebih luas sehingga lebih bebas untuk menikmati suasananya. Selain konsep tempat, view yang bagus, menu makanan yang disajikan pun tidak kalah menarik. “Yang paling favorit di sini sayur lompong dan ikan manyung asap. Selain itu mendoan dan pisang gorengnya juga paling banyak dicari,” kata Endah seraya menjelaskan bahwa sayur lompong adalah sebuah masakan berbahan dasar batang talas yang dipotong-potong dan dimasak dengan santan.

Tidak hanya makanan, beberapa minuman seperti wedang poci dan wedang jahe patut untuk dicoba. Tidak perlu khawatir dengan harga, karena baik makanan dan minuman rata-rata dibanderol dengan harga Rp 2.000 hingga Rp 15.000.
Walaupun tempatnya agak sedikit masuk dari jalan utama, lokasi Waroeng Belik dapat dengan mudah ditemukan berkat beberapa papan nama/petunjuk yang terpajang. Tempat ini buka setiap hari pukul 09.00 – 22.00 malam. “Kami buka tiap hari kecuali setiap tanggal 26 karena tiap tanggal itu kami tutup untuk bersih-bersih warung,” ujar Endah.

Thursday, March 23, 2017

Sejarah Gedung Setan Surabaya: Berawal dari Restoran Di Surabaya Kerusuhan Rasial

Siapa warga Surabaya yang tak mengenal Gedung Setan? Gedung sepuh itu masih berdiri megah di Jalan Banyu Urip Wetan 1A nomor 107, Surabaya. Penampakanya tampak lusuh layaknya gedung-gedung tua yang menyimpan banyak sejarah. Begitu pula Gedung Setan. Dia menyimpan banyak kenangan yang menjadi bagian dari Kota Surabaya.

Ketua Pengurus Gedung Setan Sutikno Djijanto kepada Jawa Pos menceritkan, bahwa gedung itu dibangun J.A. van Middlekoop pada 1809. Lalu, gedung tersebut dibeli dr Teng Khoen Gwan (Gunawan Sasmita) sekitar 1945. Setelah itu, ada kerusuhan rasial pada 1948.

''Kejadian itu membuat banyak warga Tionghoa mengungsi. Ya salah satu tempatnya di sini,'' jelasnya.

Awalnya jumlah restoran di Surabaya penghuni hanya 25 keluarga. Kini yang tinggal di situ sudah 53 keluarga. Mulanya memang warga Tionghoa semua. Namun, kini mereka sudah bercampur baur dan berkawin-mawin. ''Anak-anaknya yang terlihat sekarang campuran. Ya ada yang Jawa, ada pula keturunan Tionghoa-Madura. Beragam,'' ungkapnya.

Namun, ada satu hal yang tak berubah. Mereka memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Aliran darah keluarga senasib sepenanggungan dari pengungsi. Kerukunan terjalin kuat. ''Tidak pernah berebut apa pun. Kami tinggal di sini ya rukun-rukun saja,'' ujarnya.

Salah satunya saat perayaan Tahun Baru Imlek. Suasana meriah pasti terlihat dalam gedung. Setiap rumah berhias dengan pernak-pernik ala Imlek. Dominasi warna merah pun mencuat seketika.

Anak-anak kecil juga berkeliling dari satu rumah ke rumah lain untuk meminta angpao. ''Kami makan sama-sama. Ya, semuanya pusat kegiatan di gereja lantai atas,'' ujar pria kelahiran Surabaya, 4 Februari 1957, tersebut.

Bukan hanya itu. Mereka juga biasa saling berbagi. Termasuk kamar mandi. Gedung itu hanya memiliki empat kamar mandi umum dan dapur di bagian belakang lantai 1. Karena itu, sering terlihat antrean kamar mandi. Terutama saat pagi. Ketika penghuni akan berangkat kerja dan sekolah.

Untuk listrik, mereka patungan. Per bulan, setiap keluarga membayar Rp 15 ribu. Uang itu digunakan untuk membayar iuran kematian (Rp 3 ribu), PBB (Rp 7 ribu), dan perbaikan (Rp 5 ribu).